Sabtu, 13 Februari 2016

Pulau Onrust, Saksi Bisu Sejarah Belanda

NOTE: Bagian ini merupakan rangkaian kisah perjalanan #SatuHariJelajahiPulauSeribu. Cerita sebelumnya tentang perjalanan saya menuju dermaga Pantai Marina dan bersiap-siap meluncur ke lokasi pertama, Pulau Onrust.
* * *

Membutuhkan waktu sekitar 23 menit untuk kapal kami menepi di lokasi pertama. Sebelumnya saya sempat kecewa dengan Pulau Onrust, why? Mau saya kasih unjuk rahasia pers dalam mem-framing berita nggak? Kalau mau, coba lihat foto pertama di bawah ini :

Foto dermaga Pulau Onrust dari jarak dekat
©2015 Nila Fauziyah
Gimana? Kelihatannya nggak ada yang aneh kan?

Tapi coba lihat foto selanjutnya:

Foto dermaga Pulau Onrust dari jarak jauh
©2015 Nila Fauziyah
Ini lho yang kerap dilakukan oleh media-media massa. Sekadar penjelasan saja, mem-framing itu istilah yang artinya membingkai suatu peristiwa atau kejadian sesuai dengan keinginan si media. Pasti kita sering menemukan berita atau foto-foto yang "wah" atau terkesan membela satu pihak, tanpa kita sadari bahwa berita atau foto itu hanyalah sebagian kecil dari keseluruhan yang ada. Media massa hanya ingin menunjukkan apa yang ingin mereka tunjukkan meski terkadang kenyataannya tidak seperti itu.

Simpelnya, seperti yang saya lakukan di atas. Ketika saya memotret foto pertama, saya berharap kalian akan menilai "ini lho gerbangnya Pulau Onrust. Ada plang, ada perahu." setidak-tidaknya seperti itu. Tapi apakah kalian akan tahu kalau sebenarnya dermaga Pulau Onrust sangat kotor, seandainya kalian tidak melihat foto kedua? Jawabannya pasti tidak. Karena saya tidak menginginkan kalian tahu betapa kotor laut di dermaga Pulau Onrust pada foto pertama.

Air lautnya sampai kehitaman saking banyak sampah. Yang bikin heran, itu sampah-sampah datangnya darimana? Setahu saya, Pulau Onrust bukan pulau yang dihuni oleh warga.

Mau nyalahin wisatawan, tapi nggak punya bukti (meskipun ada kemungkinan), jadi please laut itu bukan tempat sampah! Atau menyalahkan pemerintah provinsi? Hm, saya nggak tahu-menahu nih sudah sebesar apa usaha pemerintah dalam membenahi pulau-pulau di Kepulauan Seribu, karena saya pun baru pertama kali ke sini.

Jujur, saya memang sempat kecewa karena ternyata nggak semua pulau di Kepulauan Seribu itu "wah" seperti kata orang. Padahal Pulau Onrust itu ibarat Kota Tua-nya Kepulauan Seribu. Ada sejarah dan daya tariknya sendiri. Kasihan pengunjungnya ... Kalau mereka ikut tour dari travel ya nggak masalah sih karena tour guide-nya pasti dari awal sudah kasih informasi tentang pulau ini. Tapi kalau pengunjung tanpa travel gimana? Saya yakin, mikir dua kali buat mampir ke Pulau Onrust. Dari dermaganya saja lautnya kotor, tidak berpenghuni, mau ngapain?

Padahal kalau mau dieksplorasi, Pulau Onrust memiliki sejarah dan keunikannya sendiri. Ngomong-ngomong, sebelumnya saya mau tekanin, foto-foto yang saya ambil ini adalah foto setahun lalu. Saya berharap Pulau Onrust yang sekarang sudah mendapat perhatian dari pihak pemerintah *salam damai.

Rasanya nggak adil kalau kita hanya menilai Pulau Onrust dari dermaganya saja. Karena seperti pepatah bilang "Don't judge a book by cover", and ternyata daratan di Pulau Onrust itu bersih banget. Nggak ada sampah yang berserakkan, daun-daun yang gugur pun rata-rata bersih disapu oleh pengurus atau penjaga pulau.

Jalan setapak di depan museum
©2015 Nila Fauziyah
Saya memang tidak sempat mengelilingi keseluruhan Pulau Onrust karena seperti yang saya jelaskan di cerita sebelumnya, saya, Fara, dan keluarga Kak Nabila harus kejar waktu untuk mengunjungi pulau-pulau lain. Tapi kami sempat masuk ke museum arkeologi, satu-satunya bangunan yang masih utuh yang ada di Pulau Onrust.

Bangunan yang didominasi cat dinding berwarna putih ini, menyimpan benda-benda peninggalan zaman Belanda dan benda-benda yang memiliki nilai sejarah bagi Pulau Onrust.

Salah satu ruangan di museum
©2015 Nila Fauziyah

Miniatur denah Pulau Onrust di dalam museum
©2015 Nila Fauziyah
Berjalan-jalan di Pulau Onrust membuat saya merasa sedang syuting film horor hihihi ... canda deh. Suasana di sana memang terbilang sepi. Hal yang wajar karena pulau ini tidak berpenghuni. Hanya ada beberapa penjaga dan pengurus pulau yang sebelumnya sempat menyambut dan menemani kami berkeliling.

Pulau Onrust
©2015 Nila Fauziyah

Pulau Onrust dijadikan cagar budaya dan menjadi "Kota Tua-nya" Kepulauan Seribu karena memiliki sejarah panjang. Bisa dibilang lumayan mengerikan juga. Pulau Onrust ini dulunya, sekitar tahun 1911, pernah menjadi tempat singgah bagi para jamaah haji yang baru saja pulang dari Mekkah. Belanda beralasan bahwa mereka perlu dikarantina kalau-kalau ada yang mengalami sakit atau membawa penyakit menular.

Tapi beberapa sumber mengatakan kalau itu semua hanya akal-akalan Belanda demi mencegah munculnya jamaah dengan "pemikiran baru". Memang pada saat itu, banyak dari jamaah yang pergi ke Arab bukan hanya bertujuan untuk beribadah haji ke Mekkah, melainkan juga berguru kepada ulama-ulama yang berada di Arab. Hal itu dikhawatirkan akan membawa dampak buruk bagi jamaah hingga akhirnya memiliki "kesadaran baru" lalu melakukan pemberontakan. Itu sebabnya, setiap kali Belanda menemukan jamaah semacam itu, mereka akan langsung menyuntik mati para jamaah.

Sisa bangunan dari zaman Belanda
©2015 Nila Fauziyah

Drama Kecil dan Rintik Hujan

Parah!!

Iya parah banget, karena saya baru bisa ngelanjutin tulisan tentang kepulauan seribu sekarang. Padahal traveling-nya setahun yang lalu, 15 Februari 2015 hehehe ... Minta ditimpuk banget ya.

Lanjut ah! Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya, saya dapat ajakan traveling gratis bareng keluarga Kak Nabila. Jadilah saya, Fara, dan keluarga Kak Nabila berangkat usai shalat shubuh dari kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan menuju Pantai Marina Ancol. Jangan tanya berapa jam perjalanan dari Lenteng menuju Pantai Marina, karena saya bakal jawab nggak tahu. Pertama, Jakarta nggak pernah nggak macet; kedua, kalau kamu bergolongan darah AB pasti ngerti alasannya (kami mengidap penyakit cepat ngantuk hihihi ...)

Memasuki kawasan Ancol, mobil yang kami naiki langsung mencari tempat parkir. Lokasinya tepat di depan dermaga. Kami memang berencana menaiki speedboat. Walaupun sebenarnya ada alternatif lain, karena penyewaan speedboat cukup mahal. Klik link berikut untuk referensi harga sewa speedboat. Alternatif lain yang lebih murah yaitu naik kapal motor yang titik keberangkatannya di Pelabuhan Muara Angke (Kali Adem).

Ngomong-ngomong, speedboat yang kami naiki kisaran Rp 5 juta untuk satu hari perjalanan. Adapun lokasi yang akan kami jelajahi yaitu Pulau Onrust, Pulau Untung Jawa, Pulau Pari, Pulau Tidung, dan Pulau Harapan.

Keluar dari mobil, kondisi langit mulai tidak bersahabat. Sempat khawatir sebenarnya, karena pengalaman saya naik kapal cepat pasca hujan besar, ombaknya ampun-ampunan. Tapi untungnya hanya gerimis kecil, jadi perjalanan kami pun tetap dilakukan.



Langit yang mendung
©2015 Nila Fauziyah
Melihat jejeran speedboat yang masih terikat di kayu membuat saya senang bukan main. Kapan-kapan saya ceritakan soal ini.


Dermaga Pantai Marina
©2015 Nila Fauziyah

Intinya saat naik ke salah satu speedboat, sempat ada drama. ^_^

Drama kecil yang lumayan seru
©2015 Nila Fauziyah

Speedboat yang kami tumpangi nggak sesuai dengan perjanjian. Nahkoda yang bakal mengemudikan speedboat-nya juga belum muncul dan saat itu sudah pukul 07.15 WIB. Padahal kami mesti ngebut jelajahi lima pulau dalam satu hari. Akhirnya setelah diskusi panjang lebar (kayaknya sih cuma salah paham) kami pindah speedboat dan langsung cusss ... terbang!

Lho, kok terbang? Bahaya banget buat ibu hamil dan orang yang punya penyakit jantung, saya saranin naik kapal besar yang biasa saja. Selain harga jauh lebih murah, kecepatannya juga stabil. Mungkin pengaruh cuaca juga kali ya, sampai-sampai nyali saya agak ciut. Benar-benar menantang adrenalin. Terpaan angin yang bikin jilbab saya mencang-mencong, goncangan speedboat yang kuat banget. Saking cepatnya, setiap kali menabrak ombak, kapal bakal terasa terbang, selanjutnya jedug! Saya sudah nggak bisa bilang apa-apa lagi saat kabin kapal bertumbuk dengan laut. Begitu saja terus selama perjalanan. Mulai dari ketawa-ketawa norak sampai ada yang mual karena masuk angin, halah ... Masuk ke room pun bukannya tambah enak malah enek, karena di dalam room justru semakin berasa tumbukan antara bawah kabin dengan laut.


Melihat ke arah langit Jakarta
©2015 Nila Fauziyah

==================================================

Sekadar referensi bagi yang ingin naik Kapal Motor dari PELABUHAN MUARA ANGKE:

1) Kapal Motor (KM) Lumba-Lumba:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari
2) Kapal Motor (KM) Kerap:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Lancang – Pulau Payung – Pulau Tidung
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
Marunda – Muara Baru
3) Kapal Motor (KM) Catamaran 1:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
4) Kapal Motor (KM) Catamaran 2 & Catamaran 3:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Lancang – Pulau Pari – Pulau Payung – Pulau Tidung
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa
5) Kapal Motor (KM) Catamaran 3:
Muara Angke – Pulau Untung Jawa – Pulau Pari – Pulau Pramuka – Pulau Kelapa – Pulau Sebira

Untuk biaya perjalanan:
a) Pulau Untung Jawa/ Pulau Pari/ Pulau Lancang: Rp 42 ribu
b) Pulau Payung / Pulau Tidung / Pulau Pramuka / Pulau Kelapa : Rp 52 ribu
c) Pulau Sebira : Rp 72 ribu

Sedangkan jadwal keberangkatan bisa berubah-ubah tergantung kondisi dan cuaca. Tapi umumnya seperti ini:
a) Dari Pelabuhan Muara Angke: Setiap hari pukul 09.00 WIB dan 11.00 WIB.
b) Dari pulau ke pelabuhan: Setiap hari pukul 13.00 WIB dan 14.00 WIB.

Lama perjalanan sekitar 1-3,5 jam.
Oh iya, pembelian tiket kapal tidak bisa diwakilkan. Jadi harus beli sendiri.

Juga beberapa peraturan yang harus dipatuhi:
1) Setiap orang hanya bisa membawa barang yang berat maksimal 10 kg.
2) Ukuran barang maksimal 50 cm x 50 cm x 50 cm (panjang x lebar x tinggi). Lebih dari batas maksimal, kalian pasti disuruh sewa speedboat, haiss ...
3) Dilarang membawa hewan peliharaan
4) Dilarang membawa senjata api
5) Dilarang merokok dalam kapal
6) Untuk lebih jelas lagi, kalian bisa langsung tanya ke petugas yang ada di pelabuhan ya.


Next Part 3

Selasa, 19 Januari 2016

Kafe Depok Rasa Italia (Milan Pizzeria Cafe)

Awalnya saya nggak terlalu antusias saat teman ngajak ke tempat ini, why? Cuma makan pizza kan? Lagipula saya dan ketiga teman saya itu sudah beberapa kali makan pizza di restoran sebelah. Tapi kali ini saya nurut saja deh, demi sebuah persahabatan hehe ...

Milan Pizzeria Cafe adalah tempat makan bergaya Eropa yang terletak Jl. Margonda Raya No. 514 Depok, Indonesia. Lokasinya strategis kok, berada di pinggir jalan. Jadi nggak susah cari Milan Pizza. Patokannya dekat gerbang utama Kota Depok, sebelah kiri jalan kalau dari arah Lenteng Agung atau Kelapa Dua (sebelum melewati kober atau stasiun UI).

Pertama kali masuk ke dalam, pelayannya lumayan ramah. Kita ditanya, "Untuk berapa orang?" pertanyaan khas lah, lalu sempat disuruh menunggu karena tempat duduk di lantai 1, baik yang indoor maupun outdoor sudah penuh.

Ngomong-ngomong, ada yang unik dari tempat duduk di outdoor. Bentuknya seperti ayunan, walaupun nggak semuanya. Lumayan bikin pengunjung tertarik untuk datang ke sini. Malah kalau saya perhatikan, mulai banyak kafe dan restoran yang menggunakan konsep seperti ini. Mungkin sedang tren. Tapi sayangnya, ya itu ... outdoor keburu penuh. Jadi saya nggak kebagian duduk di sana, padahal kalau boleh curhat, saya suka ayunan. Sedih ...

Bangku berwujud ayunan
(sumber: http://necalvien.blogspot.co.id)

Berada di antara banyaknya tempat makan di kawasan Margonda, sepertinya Milan Pizza nggak kalah gaul. Bila dibandingkan dengan restoran sebelah, ya memang sih Milan Pizza masih baru banget. Dari segi ruangannya juga beda banget. Di sini, ruangan diatur bergaya vintage, kursinya berbahan kayu jati. Suasananya mengingatkan saya pada bar di film koboi.

Pada akhirnya kami dapat di lantai dua. Konsep ruangannya agak beda dibanding lantai 1. Antara meja satu dengan yang lain lebih privat, karena dihalang tembok berbentuk box gitu. Ngerti nggak? Pokoknya seperti kotak segi empat tanpa tutup, terus direbahin ke samping. Nah, mejanya ada di dalam kotak itu. Selain itu, lampunya juga lebih redup dibanding lantai 1. Saya membayangkan dua hal, terutama kalau ke Milan Pizza malam hari, karena kafe ini bukanya sampai pukul 24.00 WIB. Pertama, serem; kedua, romantis. Terserah pilih yang mana deh. Juga, AC di lantai 2 nggak sedingin di lantai 1. Itu lantai 2 indoor, sedangkan lantai 2 outdoor semacam balkon rumah. Space sebelah kanan lebih enak, karena lebih sejuk terkena angin dan suasana di pinggir jalannya dapat banget.

Fasilitas di sini lumayan lengkap, ada tempat nge-charge, ada wifi, dan paling penting mushola. Sebagai seorang muslim, tentu saja tidak boleh meninggalkan shalat kan? Juga, bisa delivery order.

Urusan perut memang susah ditunda. Saya dan ketiga teman akhirnya memutuskan untuk beli dua pizza rasa Beef classic dan Meat Max ukuran regular.

Pizza Meat Max


Semua pizza di sini ada tiga ukuran, yaitu personal, regular, large. Intinya, beda ukuran, beda harga. Pizza ukuran personal sekitar Rp 25 ribuan, untuk regular Rp 50 ribuan, dan large Rp 80 ribuan.

FYI, Milan Pizza menang di harga, terutama pizza. Khusus hari senin - kamis (kecuali hari libur nasional), jam 11.00 - 17. 00 WIB (only pizza) ada potongan harga 50% (dalam rangka promosi). Diskon juga hanya berlaku untuk makan di tempat.

Oh ya, variasi pizza di sini nggak terlalu banyak. Selain pizza, ada menu pasta, lasagna, potato wedges, salad, beef, smoked sausage, dan lain-lain. Minuman sendiri variasinya masih standar kafe pada umumnya, misalnya ice lemon tea, fresh lemon tea, sampai menu kopi.

Terakhir, soal rasa ... saya kasih rating 2,5 dari 5.

Overall, Milan Pizza bolehlah buat mahasiswa dan anak sekolah yang duitnya pas-pasan, peace! Cocok untuk tempat ngumpul yang asik di area Margonda.

 

Alamat   : Jl. Margonda Raya No. 514, Depok, Indonesia
Open     : Minggu - Rabu (10.00 - 23.00 WIB)
               Kamis-Sabtu (10.00 - 24.00 WIB)
Delivery : (021) 7888 3789
Medsos : Twitter: @milan_pizza
               Instagram: MILANPIZZA
               FB: Milan Pizza

Jumat, 02 Oktober 2015

Liburan Gratis! Yeay!

Yeay!

Hari kamis tanggal 5 Februari 2015, saya bakal nge-trip lagi. Ya, walaupun masih di sekitar-sekitar sini saja sih, belum sampai keluar pulau, apalagi luar negeri (*nghayal) tapi kayaknya trip kali ini bisa disebut keluar pulau deh, tarraaaa ... Kepulauan Seribu.

Ini surprise! Karena trip kali ini amat sangat tidak direncanakan, mendadak, dan begitu mengejutkan. Lebih mengejutkannya lagi trip-nya GRATIS TIS... TIS... TIS... kok bisa? Semua berawal dari job fotografi yang saya ambil sekitar bulan Agustus 2014 lalu, setelah sekian lama nggak berkabar, Tante Rini dan Om Budi (sepasang suami istri yang ngasih saya kesempatan untuk jadi fotografer di proyek mereka) tiba-tiba nge-whatsapp saya. Tante Rini nanyain kabar, lalu ngajak saya dan Fara makan-makan sekalian silaturahmi karena sudah lama tidak bertemu. Sekadar informasi, Fara itu teman sekampus dan saya bisa dapat job itu sebelumnya juga dari dia (tengkyuu Fara ^_^). Jadilah, kami ketemuan hari Senin.

Saat di tempat makan, saya sama Fara mikirnya cuma ... Paling ngajak makan-makan saja sembari ngomongin proyek yang kemarin. Atau mungkin mau minta tolong lagi. Kami sih senang banget kalau mau dikasih proyek lagi. Sebelumnya saya juga sudah bicara sama Fara, kalaupun mereka mau minta tolong untuk ngeliput lagi, kami mau saja selama waktu kita lowong alias nggak bentrok sama jam kuliah. Ternyata mereka nggak cuma ngomongin proyek yang kemarin. Mereka ngomongin proyek ke Kepulauan Seribu. Memang sih Om Budi sempat cerita, tapi saya pikir nggak mungkin juga saya ambil tawaran untuk meliput di Kepulauan Seribu. Ongkosnya mahal (walaupun mereka selalu ngasih uang transport kalau saya dan Fara liputan), lagi pula saya masih kuliah waktu itu, lagi KKL malah, sibuk banget kan?

Tapi, rejeki Allah memang selalu datang dari arah yang tak terduga.

Om Budi dan Tante Rini minta saya, Fara, dan Kak Nabila (anak pasangan tersebut) buat nemenin mereka survei lokasi ke Kepulauan Seribu. Saya capslock ya, CUMA NEMENIN ALIAS JALAN-JALAN, bukan ngeliput untuk proyek mereka. "Jadi nggak ada beban," Gitu sih kata mereka.

Berdasarkan obrolan, kita bakal mengunjungi empat pulau dalam satu hari. Nggak seruuu... coba lebih dari satu hari pasti lebih enak (*Minta ditabok banget ya? Syukur-syukur diajakin, gratis pula hehehe... Bercanda kok). Beberapa pulau yang saya ingat, yaitu Pulau Pari dan Pulau Ayer. Tapi kurang tahu juga karena kemarin baru tawar-menawar harga sama orang travelnya.

FYI again, Om Budi dan Tante Rini mau membangun bisnis majalah, jadi untuk sementara dia butuh penulis dan fotografer lepas yang mau bantu mereka untuk ngeliput, ngambil gambar, dan nulis artikel. Mungkin kalau proyek mereka sudah final, mereka bakal ambil orang yang lebih profesional atau saya yang bakal ngelamar kerja di tempat mereka (*modus mode on). Nggak masalah dong, secara 1,5 tahun lagi saya lulus kuliah, insyAllah.

Well, walaupun trip kali ini cuma sehari dan gratis, saya tetap berusaha untuk cari tahu harga-harga mulai dari harga kendaraan berkunjung ke sana sampai harga tiket dan semacamnya. Juga foto-foto pemandangan yang saya yakin pasti keren banget. Jadi, tunggu cerita selanjutnya :)

Jakarta, 3 Februari 2015



PS: Untuk cerita tentang Kepulauan Seribu ini akan saya buat jadi rangkaian cerita #SatuHariJelajahiPulauSeribu

6 Tips Untuk Traveller Pemula

Siapa sih yang tidak suka liburan? Bisa berpergian ke suatu tempat yang menyenangkan. Sekadar mengisi waktu libur sampai menjadi pelampiasan untuk meluapkan beban pikiran *eh curhat*. Tapi benar lho, orang yang kerap melakukan perjalanan jauh, entah keluar kota ataupun keluar negeri, umumnya merasa jenuh dan lebih menyukai kebebasan. Mereka cenderung tidak dapat menyelesaikan masalah yang terjadi di lingkungan tempat tinggal, sekolah, atau kantor, lalu melarikan diri dengan alibi mencari suasana baru. Well, alasan apapun itu, selama bisa bikin kita senang, kenapa nggak?

Hanya saja tidak semua orang pernah melakukan perjalanan jauh. Melakukan liburan keluar kota hingga beberapa hari bahkan berminggu-minggu, bukan perkara sepele. Percaya deh, kita butuh perencanaan yang nggak cuma dipikirin sehari-dua hari. Kita butuh perencanaan yang matang kalau uang kita nggak mau terbuang sia-sia. Ya, intinya terletak pada uang. Traveling hanya bisa dilakukan kalau keuangan mencukupi, alias dompet yang cukup tebal atau ATM cukup terisi. Pengecualian jika kita dapat traveling gratis dari suatu sponsor. Apalagi kalau full traveling alias semuanya sudah dipersiapkan mulai dari tiket pesawat, penginapan, sampai uang saku, sudahlah ... itu sih rejeki anak sholeh banget.

Sumber: https://fiazku.wordpress.com/2012/06/27/tips-liburan-gratis/
Jadi, buat kita yang nggak sholeh-sholeh banget, nggak apa-apa pakai duit sendiri. Tapi kalau keuangan pribadi belum mendukung, ya jangan dipaksa. Mending traveling-nya ditunda, terus nabung lagi yang giat. Karena yang namanya traveling pasti kepengin happy, berharap liburan berjalan lancar, ingin shopping, pergi ke tempat-tempat yang punya landscape menarik, dan itu membutuhkan pengeluaran yang tidak sedikit. Walaupun jujur, masalah keuangan tergantung kita juga, bagaimana cara mengaturnya. Kalau kita punya sanak saudara atau kenalan yang bisa ditumpangi rumahnya itu lebih baik, setidaknya bisa menghemat uang penginapan. Terlebih lagi, tuan rumah biasanya tidak akan tega membiarkan tamunya kelaparan selama menginap di rumah mereka. Genius idea!

Tapi gimana kalau tempat tujuan kita adalah tempat yang belum pernah kita kunjungi dan kita nggak punya kenalan di sana? No problem, justru bisa jadi nilai plus. Dengan begitu kita bisa mengeksplor tempat tersebut dan mengungkapkan kepada khalayak bahwa kawasan tersebut bisa menjadi destinasi yang seru untuk dikunjungi.

Secara sederhana, tahap-tahap yang harus kita persiapkan sebelum traveling yaitu:

1. Tetapkan budget yang akan kita keluarkan selama traveling. Budget yang sesuai dengan kantong sehingga kita bisa mengira-ngira dengan keuangan segitu, kita bisa pergi ke mana saja? 

2. Buat satu sampai dua pertanyaan sederhana, seperti "Destinasi apa yang mau saya kunjungi?" atau "Kota mana yang mau saya jelajahi?"

Sumber: http://www.asistenliburan.com/2013/02/packing-list.html
3. Anggaplah, pilihan kita jatuh pada Jogjakarta. Lalu, kita bisa searching di mbah google mencari tempat-tempat wisata menarik di Jogja. Entah wisata seperti apa yang kita inginkan, bisa candi, bisa museum, taman air, atau pantai sekalipun. Catat di buku catatan. Buat sebuah list yang berisi tempat-tempat wisata di kawasan Jogja yang sekiranya mau kita kunjungi. Selain itu, penting bagi kita mengetahui informasi seputar harga tiket masuk, jadwal hari dan jam buka-tutup pengunjung, jarak tempuh dari dari lokasi wisata ke penginapan (minimal dari pusat kota), kendaraan menuju lokasi wisata, dan paling penting lokasi tersebut dibuka untuk umum. Bukan lokasi pedalaman atau sektor perindustrian yang membutuhkan izin dari pihak tertentu. Kalaupun berniat ke sana, kita harus tahu kepada siapa kita meminta izinnya. 

4. Kota tujuan sudah didapat, tempat wisata sudah masuk list, tahap selanjutnya adalah membuat jadwal keberangkatan dan kepulangan. Berapa hari kita berada di sana? Anggaplah, seminggu di Jogja, maka hitungannya dua hari perjalanan PP (dari Jakarta) dan lima hari di Jogja. Setelah fix, silakan pesan tiket PP, bisa bus, kereta, atau pesawat, dan sekali lagi sesuai keuangan. 


Sumber: http://tipsjalan.com/646/tips-liburan-hemat-dan-gratis-tanpa-biaya.php
5. Tahap berikutnya adalah pesan penginapan. Caranya bisa tanya ke teman-teman yang mungkin sebelumnya sudah pernah ke tempat yang ingin kita kunjungi. Atau searching di internet, cari yang sesuai dengan kapasitas harga dan kebutuhan fasilitasnya. Lihat lokasinya, apakah penginapan tersebut dekat dengan bandara, stasiun, atau terminal tempat kita transit atau tidak. Dan paling penting, pesan penginapan dari jauh-jauh hari (umumnya sebulan sebelum check in) mencegah penginapan penuh. Penting untuk diketahui, cari juga review penginapan yang hendak dipesan. Jangan cuma karena murah dan dekat lokasi wisata, terus langsung booking. Pengalaman saya, nginap di salah satu penginapan di Jogja, benar-benar nggak banget. Badan gatal-gatal setiap mau tidur, banyak kutu kasur! 

6. Silakan memilah-milah lokasi wisata mana yang sudah kita catat di list, yang bisa benar-benar kita kunjungi dalam waktu lima hari itu. Karena kadang, antara satu tempat ke tempat lain, jaraknya berjauhan, dan kita nggak punya cukup waktu untuk mengunjungi semuanya. 

Jadi, selamat merencanakan and happy traveling!

Jakarta, 25 Juli 2015